Saccharomyces Sp

Posted On Juni 10, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Produksi ß -Glukan Dari Saccharomyces Sp Untuk Diformulasi Sebagai Antioksidan

Abstrak

Produksi ß glukan dari Saccharomyces sp dilakukan untuk formulasi sediaan yang berfungsi sebagai bahan aktif yang bersifat antioksidan. Percobaan menggunakan Saccharomyces karena aman untuk digunakan dalam makanan maupun obat-obatan yang dikonsumsi manusia. Potensi Saccharomyces sebagai penghasil ß glukan telah dievaluasi dan untuk meningkatkan produksinya telah dilakukan berbagai penelitian yang mencakup pengaruh faktor fisik seperti cahaya, pH, aerasi, temperatur dan faktor nutrisi (komposisi media) untuk memperoleh produksi yang tinggi. Peningkatan kemampuan galur yang menghasilkan ß glukan juga telah dilakukan melalui proses mutagenesis. Teknik ekstraksi  ß glukan pada yeast sudah dikuasai pada penelitian yang lalu. Kegiatan tahun ini menguji secara in vitro ekstrak ß glukan yang diperoleh terhadap sel darah merah yang mengalami oksidatif untuk melihat potensi senyawa ini sebagai antioksidan. Analisis kandungan malonildialdehid, aktivitas superoxide dismutase, glutation tereduksi dan katalase dalam sel darah merah merupakan parameter oksidatif.

http://www.biotek.lipi.go.id/index.php?option=content&task=view&id=352&catid=119&Itemid=48

Saccharomyces bayanus

Posted On Juni 10, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Saccharomyces bayanus

Saccharomyces bayanus
 
Scientific classification
Kingdom: Fungi
Phylum: Ascomycota
Subphylum: Saccharomycotina
Class: Saccharomycetes
Order: Saccharomycetales
Family: Saccharomycetaceae
Genus: Saccharomyces
Species: S. bayanus
Binomial name
Saccharomyces bayanus
Saccardo, 1895

Saccharomyces bayanus is a yeast of the genus Saccharomyces, and is used in winemaking and cider fermentation. It is closely related to Saccharomyces cerevisiae. Both Saccharomyces bayanus and Saccharomyces pastorianus contain diverse strains, with different genetic and metabolic characteristics, that may have a hybrid origin. In their current classification, both S. bayanus and S. pastorianus may be more correctly regarded as species complexes.

http://en.wikipedia.org/wiki/Saccharomyces_bayanus

tentang Saccharomyces

Posted On Juni 10, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Saccharomyces

Jump to: navigation, search

Saccharomyces
Scientific classification
Kingdom: Fungi
Phylum: Ascomycota
Subphylum: Saccharomycotina
Class: Saccharomycetes
Order: Saccharomycetales
Family: Saccharomycetaceae
Genus: Saccharomyces
(E.C. Hansen 1838) Meyen
Species

Saccharomyces is a genus in the kingdom of fungi that includes many species of yeast. Saccharomyces is from Latin meaning sugar fungi. Many members of this genus are considered very important in food production. One example is Saccharomyces cerevisiae, which is used in making wine, bread, and beer. Other members of this genus include Saccharomyces bayanus, used in making wine, and Saccharomyces boulardii, used in medicine.

[edit] Morphology

Colonies of Saccharomyces grow rapidly and mature in 3 days. They are flat, smooth, moist, glistening or dull, and cream to tannish cream in color. The inability to utilize nitrate and ability to ferment various carbohydrates are typical characteristics of Saccharomyces.

[edit] Cellular morphology

Blastoconidia (cell buds) are observed. They are unicellular, globose, and ellipsoid to elongate in shape. Multilateral (multipolar) budding is typical. Pseudohyphae, if present, are rudimentary. Hyphae are absent.

Saccharomyces produces ascospores, especially when grown on V-8 medium, acetate ascospor agar, or Gorodkowa medium. These ascospores are globose and located in asci. Each ascus contains 1-4 ascospores. Asci do not rupture at maturity. Ascospores are stained with Kinyoun stain and ascospore stain. When stained with Gram stain, ascospores are gram-negative while vegetative cells are gram-positive.

[edit] History

The presence of yeast in beer was first suggested in 1680, although the genus was not named Saccharomyces until 1837. It was not until 1876 that Louis Pasteur demonstrated the involvement of living organisms in fermentation and in 1888, Hansen isolated brewing yeast and propagated leading to the importance of yeast in brewing. The use of microscopes for the study of yeast morphology and purity was crucial to understanding their functionality.

[edit] Use in brewing

Brewing yeast are polyploid and belong to the Saccharomyces genera. The brewing strains can be classified into two groups; the ale strains (Saccharomyces cerevisiae, generally used for ale and stout) and the lager strains (Saccharomyces pastorianus or Saccharomyces uvarum). Lager strains are a hybrid strain of S. cerevisiae (ale strains) and S. bayanus (wine strains) and are often referred to as bottom fermenting. In contrast, ale strains are referred to as top fermenting strains, reflecting their separation characteristics in open square fermenters. Although the two species differ in a number of ways including their response to temperature, sugar transport and utilisation, the S. pastorianus and S. cerevisiae species are closely related within the Saccharomyces genus.

Saccharomyces yeasts can form symbiotic matrices with bacteria, and are used to produce kombucha, kefir and ginger beer.

[edit] Pathology

Saccharomyces cause food spoilage of sugar-rich food, such as maple sap, syrup, concentrated juices and condiments.[1]

Long exposure to S. cereviciae can result in hypersensitivity[2]

http://en.wikipedia.org/wiki/Saccharomyces

 

saccharomyces cerevisiae

Posted On Juni 9, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Jamur Saccharomyces cerevisiae, atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama jamur ragi, telah memiliki sejarah yang luar biasa di industri fermentasi.

Karena kemampuannya dalam menghasilkan alkohol inilah, S. cerevisiae disebut sebagai mikroorganisme aman (Generally Regarded as Safe) yang paling komersial saat ini. Dengan menghasilkan berbagai minuman beralkohol, mikroorganisme tertua yang dikembangbiakkan oleh manusia ini memungkinkan terjadinya proses bioteknologi yang pertama di dunia.

Seiring dengan berkembangnya genetika molekuler, S. cerevisiae juga digunakan untuk menciptakan revolusi terbaru manusia di bidang rekayasa genetika. S. cerevisiae yang sering mendapat julukan sebagai ”superjamur” telah menjadi mikroorganisme frontier di berbagai bioteknologi modern.

Tentu saja kegunaan mikroorganisme ini pun menjadi semakin penting di dunia industri fermentasi. Saat ini S. cerevisiae tidak saja digunakan dalam bidang fermentasi tradisional, tetapi mikroorganisme-mikroorganisme S. cerevisiae baru yang didapatkan dari riset dan aplikasi bioteknologi telah merambah sektor-sektor komersial yang penting, termasuk makanan, minuman, biofuel, kimia, industri enzim, pharmaceutical, agrikultur, dan lingkungan.

Di masa depan, terutama karena krisis energi yang semakin sering terjadi, etanol yang diproduksi oleh fermentasi jamur ragi ini agaknya akan mendapat perhatian khusus karena potensinya sebagai biofuel.

S. cerevisiae adalah jamur bersel tunggal yang telah memahat milestones dalam kehidupan dunia. Jamur ini merupakan mikroorganisme pertama yang dikembangbiakkan oleh manusia untuk membuat makanan (sebagai ragi roti, sekitar 100 SM, Romawi kuno) dan minuman (sebagai jamur fermentasi bir dan anggur, sekitar 7000 SM, di Assyria, Caucasia, Mesopotamia, dan Sumeria).

Di Indonesia sendiri, jamur ini telah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Nenek moyang kita dan hingga saat ini kita sendiri menggunakannya dalam pembuatan makanan dan minuman, seperti tempe, tape, dan tuak.

Di dunia sains, mikroorganisme ini adalah yang pertama kali diobservasi melalui mikroskop oleh ”Bapak Ahli Mikrobiologi” Antonie van Leewenhoek. Louis Pasteur, yang terkenal dalam penemuannya mengenai cara pensterilan susu, menggunakannya sebagai bahan biokimia hidup dalam proses transformasi. Jamur ini juga digunakan sebagai ”pabrik” tempat pembuatan vaksin hepatitis B rekombinan yang pertama.

Tak hanya itu, S. cerevisiae juga merupakan ”pabrik” enzim makanan pertama (chymosin, enzim yang digunakan dalam pembuatan keju). Dan tentu saja penemuan spektakuler dalam memecahkan seluruh sekuens genom S. cerevisiae merupakan langkah pionir yang menentukan dalam menguak misteri sekuens genom manusia. Hampir semua teknologi frontier, seperti genomik, proteomik, dan nanobioteknologi, menggunakan jamur ini sebagai model.

Tidak diragukan lagi bahwa inovasi sains dan teknologi juga akan semakin melaju di bidang bioekonomi. S. cerevisiae, sebagai model sains dan mikroorganisme komersial yang populer, akan terus memegang peranan penting di masa depan.

Di masa depan, S. cerevisiae akan menjadi sel inang yang semakin diperhitungkan dalam pembuatan low volume, high value produk bioteknologi, seperti enzim, bahan-bahan kimia, protein terapi, dan produk pharmaceutical lainnya yang berdaya komersial tinggi.

Selain menghasilkan 800.000 ton protein dalam setahun, telah dihasilkan pula 60 juta ton bir, 30 juta ton anggur, dan 600.000 ton jamur ragi. Tak mengherankan mikroorganisme ini merupakan tulang punggung dalam produksi empat komoditas fermentasi terbesar di dunia.

Oleh karena itu, biomass jamur (baik untuk industri makanan manusia dan ternak) dan produksi tradisional etanol (untuk industri bir, anggur, minuman suling, dan energi) diperkirakan akan terus menyumbangkan produksi fermentasi terbanyak di dunia.

Dalam bidang energi, jamur ragi sebagai pabrik etanol merupakan suatu strategi alternatif yang telah dikembangkan di beberapa negara, seperti Brasil, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat.

Saat ini biomass tanaman adalah sumber biofuel yang paling banyak dikembangkan karena harganya yang murah dan persediaannya yang mudah didapat. Sayangnya, salah satu penghambat justru adalah langkanya low-cost technology dalam pengolahan tanaman menjadi etanol. Tentu saja tidak sembarang jamur ragi dipakai, melainkan beberapa strain S. cerevisiae yang telah direkayasa daur metabolismenya secara genetika sehingga dapat menghasilkan etanol secara efektif dan efisien.

Biofuel dalam bentuk etanol merupakan salah satu harapan masa depan dari superjamur ini. Alasan utama dari penggunaan etanol adalah sumber energi yang sustainable dan ”ramah lingkungan”, serta sangat menguntungkan secara ekonomi makro terhadap komunitas pedesaan (petani).

Seiring dengan itu, krisis energi dalam bentuk minyak bumi diperkirakan akan terjadi sehubungan dengan prediksi bahwa produksi minyak dunia akan memuncak dalam waktu 25 tahun mendatang dan selanjutnya menurun secara drastis.

Bagi negara-negara yang relatif miskin sumber daya minyak dan pengekspor minyak dunia, hal ini sangat mengancam kesejahteraan mereka, bahkan dapat mengancam pertahanan dan keamanan mereka. Oleh karena itu, mereka berpacu dengan waktu untuk mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi baru yang dapat memuluskan transisi energi oil menuju energi biofuel yang dapat diperbarui.

Tentu saja, bagi negara berkembang seperti Indonesia, pekerjaan rumah yang utama adalah bagaimana memanfaatkan sumber daya hayati jamur di Indonesia sehingga dapat mengembangkan ilmu sekaligus memajukan ekonomi berbasiskan ilmu pengetahuan ini.

Beberapa peneliti Indonesia dengan kredibilitas tinggi di beberapa perguruan tinggi dan lembaga penelitian telah menemukan ratusan jenis jamur, bahkan lebih. Langkah selanjutnya adalah bagaimana kekayaan ini dimanfaatkan seoptimal mungkin, baik di bidang sains dasar maupun di bidang bioekonomi.

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0509/21/ilpeng/2063264.htm

 

 

Hello world!

Posted On Mei 22, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.